Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Who Am I ? Dirty Rotten Imbeciles



Who Am I ? D.R.I. Who Am I ? D.R.I. Potongan lirik lagu tersebut diambil dari lagu Who Am I yang ada di album Dirty Rotten LP (1983). Lagu ini juga menjadi lagu pembuka saat mereka show di Jakarta Hammersonic Festival 28 April 2012 lalu.
      Dirty Rotten Imbeciles (D.R.I.) dibentuk tanggal 2 Mei 1982 di Houston, Amerika Serikat yang beranggotakan Spike Cassidy (gitar), Kurt Brecht (vokal), Eric Brecht (drum), dan Dennis Johnson (bass). Mereka biasa latihan di rumah orangtua Eric dan Kurt. Mereka berlatih beberapa kali dalam seminggu hingga mereka mendapatkan panggungan pertama mereka pada 2 Juli 1982 di Joe Star's OMNI, Houston, 2 bulan setelah mereka membentuk band ini. Mereka mulai merekam Dirty Rotten EP pada tanggal 6 dan 7 November yang berisikan 22 lagu yang berdurasi kurang lebih 18 menit. Rilisan pertama D.R.I. ini hanya dicetak 1000 copy. Tahun 1983 mereka kembali mengeluarkan Dirty Rotten LP yang merupakan lanjutan dari rilisan pertama mereka. Sampai saat ini mereka telah mengeluarkan 7  full album  diantaranya Dirty Rotten LP (1983), Dealing With It! (1985), Crossover (1987), 4 of a Kind (1988), Thrash Zone (1989), Definition (1992), Full Spead Ahead (1995), 2 album live, dan 2 EP yaitu Violent Pacification (1984) dan Dirty Rotten Power (2005).
      D.R.I. menjadi influence bagi band-band masa kini dalam bermusik. Tempo musik yang cepat dan leburan antara Thrash-Hardcore-Punk olahan mereka telah menjadikan band ini idola anak-anak muda. Dibalik karya-karyanya yang berpengaruh terhadap dunia musik Thrash-Hardcore ada cerita menarik dari D.R.I. saat mereka show di jakarta Hammersonic Festival tahun 2012 lalu. Saat menemui mereka di Hotel Bandara Soekarno-Hatta sebelum mereka manggung di Hammersonic mereka gugup sebelum manggung karena begitu banyaknya penonton yang hadir. Dengan penonton yang mencapai ribuan itu merupakan hal yang tidak biasa buat mereka karena mereka biasa manggung di tempat yang penontonya tidak mencapai sebanyak itu. Apresiasi penonton yang besar pada saat itu sangat membuat mereka terkejut. Mereka harus naik panggung dengan perasaan yang dag-dig-dug. Mereka sudah terlihat tua dengan perut buncit dan gerakan yang tidak selincah dulu, namun mereka tetap bisa membakar mosh-pit di Senayan pada malam itu, penonton berlali membentuk lingkaran seperti yang terlihat dalam video clip Beneath The Wheel. Who They Are ? D.R.I. Who They Are ? D.R.I.

Selasa, 17 Juni 2014

Ini Gig Kita





Kata gig sepertinya sudah ngga asing lagi didunia anak muda jaman sekarang. Tempat-tempat gig biasanya ramai dikunjungi anak-anak muda pada akhir pekan. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak SMA yang menyukai genre-genre tertentu seperti Hardcore, Metal, Punk beserta sub-genrenya. Mereka datang ke gig biasanya mempunyai tujuan masing-masing dari mulai manggung, melepas penat, menikmati musik kesukaan mereka, sekedar nongkrong dan bertemu dengan teman, hingga yang paling baru adalah mencari cabe-cabean (Yaelah...) .


Alunan musik keras dan cenderung cepat bergemuruh dalam ruangan sempit dengan keringat yang bercucuran menjadi hal biasa kita temui di venue-venue gig. Band-band yang manggung untuk unjuk gigi berasal dari berbagai macam genre tergantung dari acara yang dibuat oleh EO yang membuat acara tersebut, dari mulai acara campuran berbagai genre sampai acara yang hanya mengusung satu genre tertentu. Untuk band yang mau manggung biasanya dikenakan tarif registrasi biasanya berkisar antara 150-200rb. Untuk jam manggung mereka biasanya akan dikocok melalui technical meeting. Kalo dulu ada yang namanya “beli jam”. Band tersebut membayar lebih agar bisa manggung malem (Kalo malem biasanya rame, biar ada yang nonton gitu). Biasanya setiap band regist akan diberi waktu tampil selama 15 menit sudah termasuk check sound biasanya sih cukup buat dua lagu sama intro. Nama band juga bakal dimasukin ke dalam pamflet. Untuk publikasi itu sendiri biasanya menggunakan media cetak seperti pamflet yang disebarkan diberbagai tempat/tongkrongan yang menyukai musik-musik tersebut. Jaman sekarang ada media sosial seperti Twitter dan Facebook yang bisa membantu para EO untuk mempromosikan acara yang mereka buat, internet dan media sosial juga membantu pergerakan musik-musik underground agar bisa dikenal banyak orang dengan cepat.
 
 Nah, kalo di Depok itu ada banyak tempat seperti Balai Rakyat, Samina, Edisan Pasar Segar, Cafe 33, Ramanda, Magical Cafe, dsb. Sebagian tempat yang tadi disebutin udah gaada. Kalo sekarang itu yang lagi rame di Edisan Pasar Segar, hampir tiap minggu ada acara dari Jumat sampe Minggu. Untuk lama atau nggaknya tempat gig tersebut bertahan tergantung dari anak-anak gig itu sendiri. Banyak juga tempat yang sekarang udah gaada karena bangkrut atau ditutup karena alasan tertentu atau jarang ada yang make tempat itu karena ngurus izinya susah. Ada juga tempat gig yang ditutup karenya sering terjadi